Fokus

Berisi artikel-artikel utama yang menjadi tema majalah Cabe Rawit.

Profil

Wawancara dengan tokoh Indonesia atau Tiongkok yang inspiratif dan berprestasi.

Event

Mengupas aktivitas terbaru pelajar Indonesia di Tiongkok

Tips untuk pelajar

Tips untuk pelajar di Tiongkok mengenai kehidupan sehari-hari, beasiswa, visa dan sebagainya.

Rekreasi & Hiburan

Membahas potensi pariwisata Tiongkok yang menarik dan layak dicoba

Home » Profil

Cabe Rawit: Tidak Perlu Menonjol Tapi Kalau “Nggak” Ada, “Nggak” Asik

Submitted by on 13 September, 2015 – 13:06No Comment

Sudah sepuluh tahun Majalah Cabe Rawit berdiri. Namun, mungkin tidak banyak yang benar-benar tahu secara mendalam mengenai majalah kita yang “kecil-kecil pedas” ini. Nah, di sela-sela pengunggahan artikel-artikel informatif dari kami, ijinkanlah penulis sebagai bagian dari Majalah Cabe Rawit untuk numpang narsis dan menceritakan detail-detail tentang Cabe Rawit sendiri. Lho, nggak malu numpang narsis di public media begini?! Ya nggak lah ya, kan narsis-in Cabe Rawit, bukan narsis-in diri sendiri… Hohoho…

cabe

1 April 2015, Cabe Rawit merayakan ulang tahunnya yang ke-10. Satu dekade sudah usia majalah kita yang “kecil-kecil pedas” ini. Satu dekade sudah, majalah ini menempuh lika-liku perjalanannya untuk terus berkarya dan melayani teman-teman sebangsa dan setanah air yang berdomisili di Negeri Tirai Bambu. Bertepatan dengan hari baik ini, Cabe Rawit memperoleh kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Hadi Susanto Wijaya, pendiri redaksi Majalah Cabe Rawit, yang membagikan pengalamannya dalam mendirikan organisasi media ini.

Berawal dari sebuah ketidaksengajaan ketika seorang Hadi Wijaya “iseng” mempelajari program layout Adobe Indesign secara otodidak dan mencoba membuat layout untuk tabloid. Setelah menguasai pembuatan layout untuk tabloid, ia pun mengajak Cannita Lia, adik kelasnya semasa menuntut ilmu di Huiwen Middle School yang berbakat dalam menulis untuk kemudian mengisi konten tabloid tersebut. Inilah cikal bakal terbentuknya Cabe Rawit yang pada awalnya hanya berbentuk sebuah tabloid ukuran A3 dengan tebal 4 halaman.

CR: Pada awalnya, apakah yang membuat Kak Hadi terdorong untuk merintis Tabloid Cabe Rawit?

Pelajar asal Indonesia di Beijing cukup banyak saat itu (2005), bisa dibilang pelajar asing ketiga terbanyak setelah Korea dan Jepang, namun saya menyesalkan kenapa belum ada media cetak untuk kalangan orang Indonesia, sedangkan untuk orang Jepang ada Majalah Toko Toko. Dari situ, saya melihat dibutuhkannya sebuah media massa di mana sesama pelajar Indonesia bisa saling bertukar informasi dan berbagi, tanpa dibatasi sekolah di mana, ikut organisasi agama apa. Saat itu, pelajar Indonesia hanya berkelompok dalam ruang lingkup sekolahnya dan organisasi keagamaan saja.

CR: Lalu, mengapa memilih majalah sebagai wadahnya?

Cabe Rawit lahir dari sebuah visi dan harapan agar pelajar Indonesia di Tiongkok dapat bersatu, saling membantu dan saling berbagi, hanya kebetulan saja kelebihan kita adalah membuat majalah dan media massa. Majalah juga rasanya merupakan alat yang paling pas saat itu untuk mewujudkan harapan tersebut. Sebenarnya, majalah hanyalah salah satu wujud atau kendaraan yang kami tunggangi untuk mencapai tujuan. Jadi, kalimat resminya, kami berkarya untuk mewujudkan visi melalui pembuatan majalah.

CR: Bisa diceritakan, Kak, kondisi Cabe Rawit ketika baru berdiri?

Edisi pertama Tabloid Cabe Rawit (TCR) berbentuk 4 halaman A3 (dua lembar kertas A2 dilipat menjadi dua). Artikel pada edisi pertama dibuat sebagian oleh Cannita Lia dan sebagian oleh saya. Ketika orang percetakan mengantarkan 350 eksemplar edisi perdana tersebut, saya sempat begadang sampai pagi men-staples satu persatu setiap eksemplar. Setelah siap dibagikan, kami pun mengunjungi kampus-kampus dan menunggu jam bubar kelas untuk secepat mungkin membagikan TCR kepada pelajar Indonesia sebelum ditegur dan diusir oleh satpam. Ketika membagikan, salah seorang pelajar yang membaca di tempat ada yang langsung nyeletuk, “Ini yang nulis Bahasa Indonesianya parah sekali, kayak nggak pernah sekolah”, terhadap artikel yang saya tulis. Hahaha.. Untung saya tidak patah semangat. Dari situ, saya mengumpulkan kru Cabe Rawit yang terdiri dari teman-teman saya dengan beragam kelebihan untuk pembuatan edisi kedua dan seterusnya.

Edisi pertama TCR didanai sepenuhnya dari uang pribadi saya. Setelah edisi pertama terbit, saya kemudian membagikan sekaligus membawa TCR untuk mencari sponsor dan iklan, dibantu oleh Shun, kakak kelas saya di Peking University.

Jadi, edisi pertama TCR praktis hanya digerakan oleh saya selaku layouter dan editor, Cannita Lia selaku penulis konten, dan Shun selaku marketer. Setelah edisi pertama beredar, saya mengumpulkan teman-teman dekat saya untuk membantu saya dalam pembuatan TCR edisi selanjutnya. Pada edisi kedua, kru Cabe Rawit telah berjumlah 10 orang yang terdiri dari pelajar Indonesia dari Peking University, Tsinghua University, Beijing Language and Culture University, Beijing University of Chinese Medicine, dan Beijing Broadcasting Institute (sekarang Communication University of China, red). Merekalah anggota generasi pertama tim redaksi Cabe Rawit.

CR: Kenapa memilih nama Cabe Rawit?

Awalnya dari kata CABE yang merupakan singkatan dari waCAna Berkarya. Cabe Rawit karena kami kecil, sekelompok mahasiswa dan mahasiswi amatir yang berkarya tanpa hitung-hitungan modal dan upah apapun, namun berusaha untuk “pedas” dalam berkarya. Filosofinya, cabe rawit tidak pernah menjadi hidangan utama, namun senantiasa menjadi pendamping segala macam hidangan, apapun itu.

CR: Apa visi dan misi Kak Hadi saat mendirikan Cabe Rawit?

Ketika mendirikan Cabe Rawit, visi saya ada dua, satu visi keluar dan satu visi ke dalam. Visi keluar adalah dapat melayani kebutuhan masyarakat Indonesia di Tiongkok terhadap media komunikasi massa untuk berbagi informasi, serta menjadi katalis untuk bersatunya pelajar Indonesia, bukan hanya dalam kelompok atau golongan tertentu, melainkan juga dalam satu keluarga besar orang Indonesia di Tiongkok. Visi ke dalam adalah memberikan sarana pembelajaran dan kesempatan bereksperimen dalam berkarya bagi kru Cabe Rawit, sesuatu yang tidak bisa didapatkan di bangku sekolahan, dan terlalu riskan apabila dilakukan setelah lulus kuliah dan memiliki tanggungan finansial.

CR: Bagaimana Kakak memandang pengalaman yang Kakak dapat dari mendirikan Cabe Rawit ini?

Bagi saya pribadi, keuntungan yang saya dapatkan dalam mendirikan Cabe Rawit adalah saya dapat mewujudkan idealisme pribadi saya tentang hidup. Hati saya suka berontak ketika dalam lingkungan organisasi ataupun kerja seorang pemimpin merasa derajatnya di atas orang yang dia pimpin dan dapat menyuruh seenaknya, yang sebenarnya memang wajar dalam hidup bermasyarakat karena dia yang menggaji. Di Cabe Rawit, saya putar balik struktur organisasi sehingga pemimpin memenuhi kebutuhan anggota, anggota memenuhi kebutuhan pembaca, pembaca memenuhi kebutuhan pengiklan, pengiklan memenuhi kebutuhan Cabe Rawit (kebutuhan pemimpin). Saat itu, praktis saya yang paling repot memenuhi kebutuhan kru, dari kebutuhan organisasi, kebutuhan pribadi (tempat curhat), sampai mengantar kru pulang sehabis rapat.

Kesempatan untuk mewujudkan idealisme diri sendiri tanpa keterbatasan tuntutan realita pada masa kuliah ini adalah kesempatan langka yang juga saya tawarkan kepada anggota kru lainnya ketika saya mengajak mereka untuk bergabung. Atas dasar ini pula, saya dapat mempekerjakan 10 orang tanpa imbalan finansial sedikitpun. Saya mewujudkan lingkungan kerja utopia (sistem sosial politik yang sempurna yang hanya ada dalam bayangan dan sulit diwujudkan dl kenyataan, red) di mana kita berkarya bukan demi uang, tapi menjadi kaya dalam memberi. Di Cabe Rawit, saya dan kru saya saat itu sudah merasakan rasanya menjadi orang kaya tanpa uang dan status (berharap esensi ini juga diwariskan sampai kru sekarang).

CR: Tentu saja, Kak, esensi ini masih terus terjaga sampai sekarang dan akan terus diwariskan ke generasi-generasi selanjutnya.

CR: Bagaimana harapan Kakak ke depannya untuk Cabe Rawit sebagai salah satu organisasi masyarakat Indonesia di Tiongkok?

Harapan saya, Cabe Rawit tetap hadir di tengah masyarakat Indonesia di Tiongkok seperti layaknya cabe rawit (cabe yang sesungguhnya) di tengah hidangan masakan Indonesia, tidak perlu menonjol tapi kalau nggak ada, nggak asyik. Perkembangan jaman dan perkembangan komunitas pelajar Indonesia di Tiongkok tentu menuntut Cabe Rawit untuk tetap berevolusi dan berubah. Janganlah takut untuk berubah selama perubahan itu bermuara pada maksud baik dan impian untuk lebih baik. Janganlah takut untuk membebankan idealisme di atas punggung Cabe Rawit meskipun berlawanan dengan alasan pragmatis, janganlah takut Cabe Rawit hancur karenanya, sebab Cabe Rawit didirikan gratis, dan harga idealisme itu mahal, hitungannya masih cuan (memperoleh laba, red).

CR: Terakhir, sebagai seorang masyarakat Indonesia yang semasa tinggal di Tiongkok pernah menciptakan suatu perubahan, apa harapan Kak Hadi terhadap generasi muda Indonesia khususnya yang tengah menuntut ilmu di Tiongkok?

Wahai generasi muda Indonesia di Tiongkok, dengarkanlah dari seseorang yang sudah sepuluh tahun melewati masamu, sekarang adalah masa keemasanmu, biarkan darahmu mendidih dengan cita-cita, angan-angan, impian dan idealisme. Mungkin ada saatnya nanti di mana kamu harus melepas impianmu untuk keluarga, uang, ataupun alasan lain, tapi saat itu bukanlah sekarang. Masa depan ada di tangan kalian yang sekarang berani untuk bermimpi. Masa ini akan sangat cepat berlalu, kemudian berubah menjadi kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan. Kedua, kembalilah ke Tanah Air seusai menimba ilmu di sana. Pepatah kuno Tiongkok mengatakan 树高千丈,叶落归根(shù gāo qiān zhàng, yè luò guī gēn)—Pohon tumbuh seribu zhang (satuan Tiongkok jaman kuno, sama dengan 1 zhang=10 kaki, red) tingginya, pada akhirnya daunnya pun akan jatuh kembali ke akar, dan akar kita semua ada di Indonesia.

 

Terima kasih kepada Kak Hadi Susanto Wijaya atas sharing yang tentunya akan menjadi pembelajaran berharga bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia di Tiongkok khususnya bagi kami, tim redaksi Majalah Cabe Rawit. Karya-karya yang telah dibuat telah terukir abadi dalam sejarah, dan masih ada karya-karya besar lainnya yang akan terus lahir dalam perjalanan ini. Sukses selalu untuk kita semua. Salam pedas, salam Cabe Rawit!

“Masa depan ada di tangan kalian yang sekarang berani untuk bermimpi. Masa ini akan sangat cepat berlalu, kemudian berubah menjadi kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan.” – Hadi Susanto Wijaya.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.