Fokus

Berisi artikel-artikel utama yang menjadi tema majalah Cabe Rawit.

Profil

Wawancara dengan tokoh Indonesia atau Tiongkok yang inspiratif dan berprestasi.

Event

Mengupas aktivitas terbaru pelajar Indonesia di Tiongkok

Tips untuk pelajar

Tips untuk pelajar di Tiongkok mengenai kehidupan sehari-hari, beasiswa, visa dan sebagainya.

Rekreasi & Hiburan

Membahas potensi pariwisata Tiongkok yang menarik dan layak dicoba

Home » Profil

Didik Nini Thowok

Submitted by on 7 February, 2013 – 00:48No Comment

(Penari, koreografer, komedian, pemain pantomim, penyanyi dan pengajar)

Seni tari adalah bagian dari hidup saya, dan saya merasa bahwa Tuhan menugaskan saya di dunia ini sebagai penari”

Rubrik profile kali ini, kami mendapat kesempatan khusus untuk berbincang dengan salah satu tokoh Indonesia, yaitu Didik Hadiprayitno atau yang akrab disapa Didik Nini Thowok, penari profesional dengan kemampuan yang multitalented dan juga keturanan Huaqiao ini mempunyai segudang prestasi dalam bidang seni tari sehingga mengundang banyak penghargaan dari mancanegara.  Bakat menari yang luar biasa ini menggelitik kami untuk berbincang lebih dalam dengan tokoh yang satu ini, mari simak perbincangan kami!

 

Ternyata Mas Didik ini keturunan Tionghoa ya?

Iya, ayah saya Tionghoa, ibu saya Jawa. Saya sendiri lahir pada November 1954, di Temanggung dengan nama Kwee Tjoen Lian.

Bakat menari ini menurun dari ayah atau ibu?

Kalo orang dulu seperti ayah ibu saya, itu kan pendidikannya masih rendah ya dulu, jadi mereka hanya kerja saja untuk anak-anaknya, belum punya visi misi untuk anaknya mau jadi seperti apa. Jadi mungkin bakat itu tumbuh dari engkong saya. Kakek saya itu orang Tionghoa tapi dia sangat-sangat mencintai budaya lokal, seperti suka menonton wayang kulit, wayang wong, klenengan. Engkong saya suka ke klenteng tapi kakek saya itu kejawen. Kejawen itu belajar ilmu Jawa kepada kyai. Bahkan kakek saya sampai punya pusaka keris sama tombak, yang akhirnya saya yang mewarisi, dan karena saya selalu dilibatkan atau diajak untuk menonton seni-seni ini, saya lama-lama menjadi senangkan, lingkungannya jadi selalu dalam dunia seni, setelah itu saya belajar. Nah, saya kan kalo belajar serius, sehingga lama-lama itu menjadi profesi saya.

Ada pesan gak sih dari kakek yang selalu diingat?

Kalo dari kakek saya pesennya cuma bagaimana menjadi orang yang baik, lalu pesen yang selalu saya inget kalo saya belajar ke guru, saya harus menjadi murid yang bersikap bodoh, bodoh itu pura-pura bodoh, supaya kamu sukses belajar dimana-mana, itu yang saya pakai sampai sekarang.

Kenapa dari nama lahir Kwee Tjoen Lian, berganti menjadi Didik Hadiprayitno, dan sekarang lebih dikenal dengan nama Didik Nini Thowok?

Pada tahun 1965 pemerintahan presiden Soeharto, dengan adanya peristiwa G 30 S PKI maka seluruh warga keturunan China di Indonesia harus mengganti namanya menjadi nama Indonesia, termasuk keluarga saya. Nama Didik Nini Thowok adalah nama panggung atau artist name, awalnya adalah pada tahun 1974 saya masuk kuliah di ASTI ( Akademi Seni tari Indonesia Yogyakarta, sekarang ISI = Institut Seni Indonesia Yogyakarta) , tamat S-1 tahun 1982. Waktu itu saya diajak oleh Senior saya mbak Bekti Budi Hastuti untuk ikut bergabung menarikan tari ciptaan dia yang berjudul Tari Nini Thowok, bernuansa komedi yang diangkat dari dolanan anak jaman dahulu yang disebut Dolanan Nini Thowok ( Sejenis Jai lang kung , permainan mengundang roh ). Tari tersebut di Choreography berdasarkan lagu Jawa Kreasi Baru ciptaan Ki Narto Sabdho seorang komposer dan dalang yang sangat terkenal di tahun 70 an, berasal dari Semarang. Dari situ tari komedi ini mulai di kenal masyarakat dan digemari, sehingga nama saya terkenal dengan sebutan Nini Thowok.

Apa kesibukan atau keseharian Mas Didik sekarang ?

Saya mengelola Lembaga Pendidikan Kursus Tari yang bernama LKP Natya Lakshita di Yogyakarta, dengan kegiatan menyelenggarakan kursus tari, pertunjukan tari, segala aktivitas dengan dunia tari.

Bagaimana awal ceritanya perjalanan karir Mas Didik yg dimulai dari Temanggung, kini sudah manggung ke kota-kota di dunia? Dan sudah berapa kali tour keluar negeri untuk nari?

Tahun 1974 setelah bekerja di Kantor Kebudayaan Kabupaten Temanggung selama setahun, 1972 saya lulus SMA Negeri I Temanggung; saya kuliah ke Yogyakarta di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia Yogyakarta). Lalu setelah lulus saya sempat menjadi dosen Tari disana sebagai pegawai negeri selama 8 tahun. Pada tahun 1980 saya sudah merintis mendirikan Sanggar Tari Natya Lakshita yang kemudian setelah saya keluar dari ASTI saya kembangkan menjadi sebuah lembaga resmi pemerintah sebagai Perusahaan Perorangan. Kalo tour ke luar negari ini aku uda gak tau keberapa ratus kali hehehe.. tapi kalo itung negara mungkin sudah menginjak hampir 40 negara.

 Kelebihan budaya kita dibanding dengan kebudayaan bangsa lain ?

Sangat berbeda, karena Indonesia sangat kaya dengan variasi dan keragaman budaya, demikian juga musik pengiring tari sangat beragam, mulai dari musik diatonis sampai pentatonis.

Seberapa kuat kecintaan Mas Didik dengan menari?

Seni sudah sangat mendarah daging dalam diri saya, bisa dikatanya seni tari adalah bagian dari hidup saya, dan saya merasa bahwa Tuhan menugaskan saya di dunia ini sebagai seorang penari. Karena seni tari yang saya tekuni dari kecil umur 12 tahun sudah menjadi satu dan meresap dalam diri saya.

Upaya apa yang dilakukan Mas Didik sebagai keturunan Tionghoa memberikan kontribusi untuk Indonesia dalam mempertahankan kebudayaan Indonesia hingga dikenal mancanegara?

Kalo saya melakukannya dengan menjulang prestasi,  jadi saya serius sekali mempelajari tari, saya memang orangnya pekerja keras, mungkin karena keturunan orang-orang Cina begitu ya, pekerja keras.  Saya belajar manajemen juga, sehingga sekolah tari saya berdiri dari tahun 80 hingga sekarang tetap exist kan bukan hal yang gampang. Saya kalau membuat sesuatu tidak tanggung-tanggung termasuk dalam hal seni tari karena kecintaan saya pada budaya Jawa juga bukan rekayasa, hingga banyak peneliti-peneliti orang asing yang kemudian mencari saya.

 Harapan untuk generasi berikutnya ?

semoga generasi muda timbul kecintaannya dengan budaya Indonesia dan menghargai serta memahami bahwa hanya lewat diplomasi budaya saja hubungan antara manusia dan negara menjadi indah tanpa harus berperang menghilangkan nyawa manusia. Kita sebagai orang Indonesia, jangan lupa dengan Tanah Air, berprilaku yang baik, kan kita tidak mau menjelekan negara kita. Belajar yang serius.

Terima kasih Mas Didik sudah mau diwawancara oleh Cabe Rawit. Semoga kecintaan Mas Didik pada kebudayaan Indonesia menular keseluruh masyarakat Indonesia dan juga warga mancanegara.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.