Fokus

Berisi artikel-artikel utama yang menjadi tema majalah Cabe Rawit.

Profil

Wawancara dengan tokoh Indonesia atau Tiongkok yang inspiratif dan berprestasi.

Event

Mengupas aktivitas terbaru pelajar Indonesia di Tiongkok

Tips untuk pelajar

Tips untuk pelajar di Tiongkok mengenai kehidupan sehari-hari, beasiswa, visa dan sebagainya.

Rekreasi & Hiburan

Membahas potensi pariwisata Tiongkok yang menarik dan layak dicoba

Home » Berita

Sejarah Toga dalam Upacara Wisuda

Submitted by on 27 May, 2017 – 21:43No Comment

wisuda_20151013_111507

Menjelang pertengahan tahun ini, mungkin banyak dari teman-teman yang akan segera menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Seperti yang teman-teman ketahui, sudah menjadi tradisi bagi hampir seluruh universitas di seluruh penjuru dunia untuk menggelar sebuah upacara wisuda untuk merayakan kelulusan para mahasiswanya. Pada upacara wisuda, para wisudawan akan mengenakan toga, yaitu adalah pakaian yang menyerupai jubah, dilengkapi dengan topi berbentuk segi empat. Rupanya yang unik mungkin membuat kita bertanya-tanya, mengapa para wisudawan harus mengenakan pakaian seperti ini?

Sejarah toga dalam dunia pendidikan berawal dari abad ke-12, dimasa awal terbentuknya universitas-universitas di Eropa. Pada masa tersebut, para mahasiswa sering kali mengenakan jubah sederhana yang cukup panjang untuk menghangatkan tubuh disaat musim dingin. Sedangkan topi berbentuk persegi, adalah aksesoris sehari-hari yang sering dikenakan oleh para kaum cendakiawan untuk melambangkan bahwa mereka adalah kaum terdidik dan terpelajar.

Pada masa ini, tentu saja para mahasiswa sudah tidak perlu mengenakan jubah untuk menahan dingin. Lalu, mengapa toga masih dikenakan dalam upacara wisuda?

Alasan masih dikenakannya toga dalam upacara wisuda tidak lain adalah karena keberadaan filosofi yang mendalam dibaliknya. Warna dan bentuk dari toga tentu memiliki filosofi tersendiri yang melambangkan pencapaian dan pengharapan bagi para wisudawan.

Warna hitam yang dominan pada toga melambangkan misteri dan keanggunan. Dengan memakai pakaian hitam tersbut, para wisudawan diharapapkan untuk bisa mengungkap misteri-misteri yang ada di dunia dengan segala ilmu pengetahuan yang didapat dari pembelajaran selama ini.

Bentuk persegi pada topi toga merupakan simbol dari cara para wisudawan melihat dunia, cara berpikir para wisudawan yang mampu melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang seperti ke-4 sudut persegi dan rasional seperti bentuk persegi yang presisi.

Sedangkan untuk gestur pemindahan tali topi toga dari sisi kiri ke sisi kanan adalah harapan bagi para wisudawan untuk mampu menggunakan kemampuan otak sejara maksimal. Selama berada di perguruan tinggi, para wisudawan diasumsikan lebih banyak menggunakan otak kiri dibanding otak kanan. Maka dari itu, dengan memindahkan tali topi dari kiri ke kanan, wisudawan dituntut untuk juga menggunakan otak kanan saat terjun ke masyarakat.

 

CALVIN CHIU KURNIAWAN

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.